Rabu, 29 Oktober 2014

[Bukan] Ukhuwah Ini Mah

Yang suka dapet materi sirah nabawiyah, in syaa Allaah familiar banget ama adegan dipersaudarakannya Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari. Itu lho, yang waktu Abdurrahman bin Auf ditawarin salah satu dari dua kebun dan istrinya Sa'ad bin Rabi'. Namun, Abdurrahman bin Auf nolak, dan malah cuma minta ditunjukin lokasi pasar.
Saya dapat beberapa hikmah dari kejadian ini. Ialah satu sisi lain dari ukhuwah, yang namanya ukhuwah itu bukan sekadar memberi dan menerima, namun saling memberi.
Sa'ad bin Rabi yang kondisinya secara materi saat itu lebih daripada Abdurrahman bin Auf bersemangat memberi kepada Abdurrahman bin Auf yang meninggalkan segala harta bendanya di Makkah. Namun, Abdurrahman bin Auf tak mau kalah, meski saat itu tak punya materi dan mungkin di mata kita memang membutuhkan. Abdurrahman bin Auf dengan kondisinya yang belum memliki materi tuk memenuhi kebutuhan hidup, tidak menerimanya, namun tetap menghargai niat baik saudaranya, dengan meminta tolong ditunjukkan pasar.
Abdurrahman bin Auf tetap menjaga izzahnya, namun dia begitu santun dalam menunjukkan izzahnya selaku pribadi muslim.
Semangat memberi ditunjukkan dengan menolak pemberian. Dia menjaga izzahny tetap meninggi dengan tidak mudah menerima kebaikan.Padahal, tak mungkin Sa'ad bin Rabi tidak bersungguh-sungguh dengan niatnya allias hanya basa-basi. Meski mungkin berat tuk memberikan karena kebun dan istri merupakan kebutuhan mendasar baginya. Namun, tetap berusaha ridho memberi kepada saudaranya. Itulah akhlaq Sa'ad.
Akhlaq mulia Abdurrahman bin Auf ditunjukkan dengan tetap menghargai niat baik saudaranya dengan meminta sedikit jasa Sa'ad tuk ditunjukkan jalan ke pasar. Dengan begini, artinya niat baik Sa'ad tidak ditolak sepenuhnya, bahkan mungkin merasa masih diterima oleh Abdurrahman bin Auf.
Jadi, ukhuwah itu [juga] saling memberi.
--------------------------------------------------
Tentang satu sisi dari ukhuwah ini, kepikiran lebih lanjut. Mungkin di antara kita, pernah nemuin kondisi di mana kita ngebutuhin banget uang buat makan. (ceritanya masih anak kuliahan dan akhir bulan). Karena kita lapar, akhirnya kita maen ke temen seperjuangan.Siapa tau temen kita masih punya uang lebih.
Kejadiannya, temen kita ini tahu kondisi kita karena sudah biasa terbuka dengan kawan seperjuangan kita. Lantas, ia menawari kita pinjaman uang, bahkan traktiran.
Bagaimana sikap kita? Bagaimana bentuk aplikasi adegan indah antara Abdurahman bin Auf dan Sa'ad bin Rabi' kita aplikasikan?
Mungkin bentuk aplikasi  dari sisi lain ukhuwah di atas, yakni menjaga izzah kita. Kita berpikir "Mungkin temen kita juga sebenarnya membutuhkan", so kita tolak. Itu menunjukkan izzah kita. Namun, jika saudara kita terus memaksa, itu bukti kalau ia bersungguh-sungguh memberi kita. Jika, ia sudah menawari kita untuk yang ketiga kalinya, bolah lah kita terima. Namun, jangan sampai hilang niatan kita untuk menjaga izzah, dengan mengazzamkan diri membalas kebaikan saudara kita. Kita menerima karena kita menghargai niat baik saudara kita.
Emang si gak seratus persen seperti praktik Abdurrahman bin Auf, yang kemudian dia membangun bisnis di pasar.
Ya, mau gimana lagi. Di satu sisi, yang namanya anak kosan kan tugas utamanya nyari ilmu, bukan nyari duit.Kita juga harus mempertimbangkan kondisi yang berbeda dengan Sahabat Abdurrahman bin Auf.
-------------------------------------------------------
Semoga bermanfaat :)

1 komentar: